AnazDjabo.Blog

Write, Speak and Actions !

  • My Self

    Aktivis mahasiswa, konsultan marketing politik pergerakan mahasiswa dan politic-preuneur. Presiden Mahasiswa BEM URINDO Jakarta dan Direktur Eksekutif pada Acheh Youth Leader Centre. Kegiatan sehari - hari menjadi konsultan di berbagai kegiatan politik mahasiswa dan senantiasa memberi support untuk para aktivis mahasiswa merupakan jalan hidupku.

  • My Tweet

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

URINDO Menuju Kampus Bebas Asap Rokok ; Mampukah ?

Posted by Anaz Djabo on 24 December 2009

Khairunnas Djabo

Wacana ‘URINDO Free Smoking Area’ atau ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ mulai terdengar populer akhir-akhir ini. Istilah ini sedang menjadi topik pembicaraan bagi kalangan tertentu, utamanya dikalangan aktivis kesehatan khususnya aktivis anti rokok. Sedangkan bagi kalangan lain, istilah ini masih belum begitu ‘populer’.
Maka wajar saja, jika ada pro-kontra yang meresponnya. Bahkan ada pula dengan nada sinis berujar, “Memang Bisa ?”. Hemat saya, jika wacana ini benar-benar berfaedah bagi URINDO, maka upaya kajian dan sosialisasi harus segera dilakukan.

Beberapa minggu lalu, di sela – sela acara seminar Kesehatan SEMA FIKes URINDO, beberapa rekan aktivis mahasiswa URINDO menyoal kelayakan penerapan wacana tersebut. Mereka yang berasal dari beragam fakultas dan prodi mengemukakan bahwa wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ adalah wacana yang perlu dikaji secara konfrehensif sehingga betul – betul matang untuk diterapkan. Sementara rekan yang lainnya menginginkan bahwa wacana tersebut harus segera diterapkan di URINDO sekarang juga . Perbedaan kedua tanggapan tersebut tentu saja didukung argumentasinya masing-masing. Pro dan kontra merupakan dinamika yang biasa terjadi dalam proses pertumbuhan tradisi akademik di URINDO.

Saya sendiri, cenderung lebih sepakat dengan tanggapan rekan – rekan yang pertama. Meski terkesan tidak se-ekstrim mereka yang diberi label ’pejuang anti rokok’, saya melihat wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ sebagai tantangan sekaligus harapan dalam konteks pencapaian visi dan misi URINDO ke depan.

Secara substansial, wacana atau konsep ‘‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ bukan hanya persoalan semantik belaka. Tetapi lebih dari itu, ia menyangkut pula aspek asas manfaat, psikology, dan efektifitasnya. Sehingga apa, bagaimana, dan untuk apa wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ harus dapat dijabarkan, baik secara akademik maupun dalam tataran empiriknya oleh berbagai pihak. Dengan kata lain, tidak cukup wacana ini hanya ada dalam pikiran kalangan aktivis antirokok saja atau orang-orang yang sepakat dengan wacana tersebut.

Terusterang saja, saya sendiri belum memiliki konsep matang tentang apa, bagaimana dan untuk apa wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ itu. Jadi maaf saja, saya belum bisa menjelaskan secara akademik pada kolega dan mahasiswa tentang kehebatan konsep ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ jika dibandingkan dengan konsepnya Alex Papilaya atau setumpuk makalah-nya kang Viktor Subiakto Puja. Karena saat ini, Bapak Rektor dan rekan – rekan aktivis anti rokok-lah yang mengetahui persis, sehingga merekalah yang mula-mula harus menjelaskan konsep tersebut kepada perwakilan komponen strategis mahasiswa dan komponen civitas lainnya. Hal ini menurut saya penting dilakukan agar tidak sekedar menjadi jargon, alias retorika belaka. Setelah ada penjelasan konsepsional dari rektorat dan para aktivis, baru pihak lain mensosialisasikannya kepada seluruh civitas akademika URINDO.

Dari perspektif yuridis, ada beberapa pertanyaan yang layak diajukan secara beruntun, yaitu: apakah wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ tersebut merupakan wacana ’arus bawah’ atau bukan? Apakah wacana tersebut merupakan wacana rektor atau rektorat ? Apakah wacana ini partisipatif atau instruktif yang topdown? Apakah telah dirancang aturan terhadap wacana ini? Aturan apakah yang paling tepat untuk mengatur ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ ini ? Apakah wacana penerapan ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ telah mempertimbangkan sinkronisasi dan harmonisasi kalangan civitas ?

Untuk semua pertanyaan yang saya ajukan di atas, tentulah para inisiator wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ bersama para aktivisnya dapat menjawabnya secara tepat dan lugas. Hemat saya, jawaban dari persoalan-persoalan hukum di atas menjadi penting bagi semua pihak. Bagi rektorat, misalnya, jawaban di atas akan menjadi acuan bagi mereka dalam merumuskan kebijakan turunan yang akan diimplementasikan secara sektoral. Begitu pula bagi kalangan aktivis mahasiswa anti rokok dan termasuk organisasi mahasiswa didalamnya, jawaban tersebut pun berguna untuk mereka dalam merancang dan merumuskan program kerjanya ditahun mendatang. Sementara itu, bagi pihak yayasan atau pengelola kampus, jawaban tersebut bermanfaat dalam rangka memformulasikan what should be the law, yang mungkin saja dapat “membungkus” wacana ini menjadi ketentuan hukum yang mengikat siapapun di kampus kebanggaan kita ini.

Mengacu pada UU BHP yang telah memberikan otonomi seluas-luasnya kepada setiap institusi Perguruan Tinggi, maka Keputusan Rektor merupakan payung hukum kebijakan rektorat yang mengatur penyelenggaraan pendidikan dan kehidupan kampus. Sehingga, menurut saya, wacana ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ tidak cukup jika hanya berupa konsep seminar, pidato atau deklarasi saja, atau bahkan hanya berupa instruksi atau seruan bersama — yang seringkali terkesan lewat begitu saja seperti yang kita amati dalam seruan-seruan biasa yang telah lalu. Tetapi, konsep ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ ini, jika memang benar-benar bermanfaat bagi URINDO, maka ia harus mendapat pengaturannya di dalam atau dengan perturan rektor sebagai payung hukumnya.

Persoalan berikutnya, jika konsep ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ disepakati pengaturannya di dalam atau dengan keputusan rektor, yang notabene dibuat oleh rektorat– sebagai perpanjangan tangan dari pihak yayasan. Maka pertanyaannya adalah, di dalam peraturan yayasan apakah konsep ini di-insert? Ataukah konsep ini akan dijabarkan dengan keputusan yang tersendiri? Kalau saya boleh usul, sebaiknya konsep ‘URINDO Menjadi Kampus Bebas Asap Rokok’ sebelum dibentuk menjadi sebuah keputusan yayasan yang sangat mengikat untuk URINDO ke depan, sebaiknya para inisiator wacana tersebut tidak pernah bosan mengadakan kajian dan tindakan sebagai upaya antisipasi dari efek penerapan aturan tersebut. Semoga wacana dapat terimplementasikan, sehingga terhindar dari slogan ’jago onani wacana’…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: