AnazDjabo.Blog

Write, Speak and Actions !

  • My Self

    Aktivis mahasiswa, konsultan marketing politik pergerakan mahasiswa dan politic-preuneur. Presiden Mahasiswa BEM URINDO Jakarta dan Direktur Eksekutif pada Acheh Youth Leader Centre. Kegiatan sehari - hari menjadi konsultan di berbagai kegiatan politik mahasiswa dan senantiasa memberi support untuk para aktivis mahasiswa merupakan jalan hidupku.

  • My Tweet

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Menghindari Epidemi Korupsi

Posted by Anaz Djabo on 23 December 2009

Dr. Muhammad AR, M.Ed

Epidemy, penyakit yang menyebar begitu cepat (Kamus Longman Active Study Dictionary, edisi baru 1999). Begitulah halnya dengan penyakit korupsi yang kini terjadi, sudah merasuk ke setiap sendi masyarakat kita, terutama di Aceh pascasmong. Mulai berbentuk ketidakjujuran maupun perilaku tak bermoral lainnya yang dilakukan elite dan orang-orang yang bekerja di pemerintahan. Prilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kekerasan antarwarga, dan tindak kriminal yang semakin meluas selama ini-bahkan banyak dilakukan oleh mereka yang pernah mengikuti pendidikan formal, menurut Abdul Munir Mulkhan (2002) dalam bukunya “Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Filosofis pendidikan Islam” sebagai indikator bahwa pendidikan akhlak dan tauhid belum benar-benar difungsikan di sekolah-sekolah umum. Nah, tidak heran, jika akhir-akhir ini persoalan kurupsi seakan-akan sudah menjadi sarapan, dan hampir tidak ada media massa yang tidak mengetengahkan masalah tersebut. Yang paling ironi pelaku korupsi tersebut adalah dilakukan oleh manusia-manusia yang terbilang professioanal dan berpendidikan tinggi.


Ada juga benarnya, kata orang bahwa power tend to corrupt (kekuasaan itu cendrung untuk terjadinya korupsi). Karena masih ada pemimpin atau penguasa yang bebas dari korupsi. Di sinilah kepribadian seorang pemimpin dan penguasa. Artinya, jika mereka sudah punya ‘azam (cita-cita) untuk melakukannya maka tinggal menunggu kesempatan saja. Sebaliknya jika mereka tidak punya niat dan ‘azam , maka sampai kapanpun korupsi itu tidak akan terjadi. Ada beberapa perkara untuk menghindari korupsi, terutama mereka yang mengaku Islam. Pertama, harus merasa beriman. Mukim adalah mereka

takut akan azab Allah. Dia akan sangat malu terhadap Allah apabila melakukan kesalahan, dia tidak dapat menyembunyikan diri dari pantauan Allah dan dia tidak merasa yakin bisa menipu Allah dan menipu diri sendiri. Orang semacam ini imannya kuat dan tauhidnya benar sehingga dia sangat takut akan muraqabah. Artinya kalau orang bertauhid yang benar dan dalam dirinya tertanam muraqabah (apapun yang dilakukan oleh manusia ini, ketahuilah bahwa ada yang memantau setiap gerak geriknya). Kita harus merasa diri bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini pasti mandapat muraqabah Allah swt. Inilah konsep ihsan dalam ajaran tauhid yaitu “Jika kamu beribadah kepada Allah seolah-oleh kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihat-Nya berarti Dia melihatmu”. Sekecil apapun korupsi atau penyelewengan yang kita lakukan pasti kita dipantau oleh Allah ‘azza wajalla.

Orang beriman tidak akan menipu Allah dan apa saja yang dilakukannya pasti diketahui oleh Allah. Tidak akan berzina seseorang kalau dia dalam keadaan mukmin, tidak akan mencuri seseorang itu ketika dia dalam keadaan mukmin, dan tidak akan melakukan sekecil apapun kesalahan kalau dia itu masih dalam keadaan mukmin. Maka sudah pasti endemy korupsi, tidak akan terjangkit terhadap orang-orang seperti ini. Sungguh, tak ada kata hati yang menyuruh manusia untuk berbuat kejahatan dan penyelewengan kecuali hati itu sudah busuk dan gersang dari ketauhidan. Maka ketika ada ungkapan sering didengar, “sekarang jangankan untuk mencari yang halal, yang harampun sukar didadapat”, merupakan pernyataan orang-orang yang sudah jauh dari domain iman dan tauhid. Mereka putusaasa dari bantuan Allah, dan ini menyesatkan dan menjauhkan diri dari rahmat Allah.Korupsi (penyelewengan) itu adalah wabah yang menyebakan kita sedikit demi sedikit dan hari demi hari mengeluarkan kita dari deretan orang-orang yangberiman.

Kedua, malu. Rasul saw bersabda antara lain bahwa “malu itu itu sebahagian dari iman”. Namun inilah yang sekarang sulit digejawantahkan dalam pribadi manusia. Sebab kita tidak mamahami makna malu yang sebenarnya, sehingga banyak yang mengartiakan malu, bila memakai baju yang usang, memakai sepeda atau kenderaan roda dua sementara orang lain sudah semuanya memakai mobil, memakai kain sarung dianggap malu sementara orang sudah jarang memakainya kecuali di rumah, tinggal di rumah yang sederhana dianggap malu apalagi di rumah kontrakan terus menerus, menumbuhkan jenggot dianggap memalukan, memakai jubah atau purdah bagi perempuan dianggap malu, mengawinkan anak dan tidak membuat walimaul urusy (pesta) yang hebat juga dianggap tidak enak hati (hana meuoh) apalagi kita banyak karib kerabat dan sebagainya. Kita sudah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Inilah perobahan paradigma tentang pengertian malu yang sebenarnya. Seharusnya kita harus malu kepada Allah karena menerima uang haram yang bukan hak kita, kita harus malu membuka aurat secara sembarangan tempat, kita harus malu menerima risywah karena hal itu menyakiti para pemberi, kita seharusnya berhak malu kepada Allah karena meningalakan shalat, puasa, zakat dan haji, kita juga harus malu karena mendhalimi manusia tiap hari, kita harus malu melanggar peraturan lalu lintas karena menyakiti hati orang lain dan juga menyebabkan kecelakaan, kita harus malu karena bodoh dan tidak mampu mencari ilmu sebagai mana dianjurkan oleh Rasulullah saw, dan kita harus malu kepada Allah karena tidak semuanya perintah-Nya belum mampu kita laksanakan dalam kehidupan ini.

Ketika seseorang mengaku beriman, maka ia seharusnya malu sehingga tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Tidak mencampur adukkan antara yang benar dan yang bathil, tidak membenarkan para pesalah dan menyalahkan orang-orang yang benar dan jujur. Jangan sampai malu dalam melakukan kejujuran dan keadilan serta kebenaran walaupun itu pahit ujung-ujungnya. Ketiga, seorang mukmin harus qanaah, yaitu merasa cukup dengan segala pemberian Allah. Al-qanaatu kanzul la yughna” (qanaah itu adalah harta yang tidak habis-habis). Orang qanaah, tidak memperkaya diri dengan sumber-sumber dari hasil risywah, fee haram, dan monopoli proyek mentang-mentang kita penguasa dan pembesar negeri. Qanaah ini harus ditanamkan kepada setiap orang, sehingga mereka tidak rakus.

Qanaah berlawanan dengan tamak. Jika seseorang rakus dan tamak harta, pangkat dan jabatan maka qanaah akan lari dari manusia itu. Nafsulah yang menjadi pemimpin kita. Ketika manusia diperhambakan oleh nafsu maka yang lahir dari sikap, perbuatan dan pemikirannya adalah selalu berpihak iblis dan kesombongan serta keangkuhan. Namun jika ada sifat qanaah, maka matanya tidak akan hijau dan terbelalak dengan uang sogokan, uang -uang yang tidak jelas sumbernya. Ironisnya sekarang banyak manusia menanam di kebun orang, artinya anggota parlemen yang kerjanya mengurus undang-undang ternyata menangangi proyek, pihak-pihak yang seharusnya menangkap para pelaku jenayah (krimilnal) ternyata ikut ambil bagian dalam bidang yang bukan wilayahnya, demikian juga orang-orang yang tidak memiliki ilmu tentang proyek hari-hari bergentanyangan dari kantor ke kantor mencarinya, dan dimana letak qanaah yang sebenarnya. Ini jauh dari qanaah dan juga menipisnya rasa malu serta tandusnya iman di dalam dada. Konsep Islam adalah mencari makan dengan sebaik-baiknya tanpa menghardik menindas oranglain apalagi orang-orang yang memiliki Tuhan yang sama, memiliki Nabi yang sama dan juga berasal dari bijeh yang sama. Dengan adanya sifat qanaah, rasa malu, beriman yang teguh serta berakhlak mulia maka korupsi tidak akan pernah terjadi di tengah umat yang mengatasnamak dirinya muslim.

Penulis adalahKepala Lembaga Kajian Anti Korupsi IAIN Ar-Raniry Darussalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: